Minggu, 03 Mei 2026

Al Hafiz Kurniawan, Pemotor Budiman Jakarta

Jika saya bernasib jadi dewan juri yang bertugas menentukan pemotor budiman di Jakarta, maka pilihan tak akan jatuh ke pihak lain, tapi kepada Al Hafiz Kurniawan. Bukan karena dia sahabat saya, tapi karena benar-benar dia budiman. Jika dewan juri lain mengajukan nama berbeda, saya akan bantah dengan menunjukkan kebudimanannya panjang lebar. 

Saya akan mengungkapkan perilaku Al Hafiz Kurniawan di jalanan dengan detail, baik ketika matahari menyengat maupun saat bulan temaram. Baik di gang sempit atau di jalanan raya. Semua akan saya jelaskan dari “Alif” sampai “Ya” dari A sampai Z. Ditambahkan sedikit bumbu pemanis tidak masalah ya, biar agak sedap.  

Setelah dijelaskan, saya yakin seyakin-yakinnya, dewan juri lain akan surut dan segera konferensi pers, menyesali atas pilihannya sendiri. Diam-diam dia akan pentung kepala sendiri saat di toilet seraya mengucap subhanallah tak kurang dari tiga kali. Dia geleng-geleng kepala tak kurang 7 kali karena menyadari masih ada pemotor sebudiman itu. Rapat penentuan pemotor budiman pun kemudian tidak berjalan alot. Ringan saja, seringan kau mencabut bulu di atas air. Dan keputusan tak jatuh ke pemotor mana pun, melainkan kepada Al Hafiz Kurniawan.   

Saya bukan sekali dua dibonceng Hafiz, melainkan beratus-ratus kali dalam waktu bertahun-tahun. Setidaknya sejak 2010. Kalau jarak tempuh dihubung-hubungkan, bisa jadi sampai ke Paniai, jika titik tolaknya dari Bali, tempat Munasnya Golkar versi Aburizal bakrie. Tidak mungkin kurang. 

***

Malam-malam di Jalan Surabaya, Jakarta, saya dan Hafiz tercegat lampu merah. Sebagaimana biasa, seperti menghadapi lampu merah di jalan mana pun, dia berhenti di belakang zebra cross. Tak ada polisi resmi atau abal-abal berdiri. Sementara di hadapan, jalan yang melintang horizontal, Jalan Diponegoro, benar-benar sepi, bajaj dan taksi dan jenis kendaraan lain tak ada yang nongol sama sekali. Cuma sekadar bautnya pun tak tampak menggelinding. 

Dari belakang, datang pemotor dengan knalpot sember. Dia solo karier alias sendiri tanpa penumpang astral sekalipun. Dia berhenti pas zebra cross di depan kami. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah lirik kanan kiri. Entah apa yang dicarinya. Jelas-jelas kiri-kanannya cuma pepohonan dan rumah-rumah tidur, tak tampak manusia satu batang hidung pun. 

“Tuh, mari kita lihat akhlak Abang kita ini,” kata Hafiz sambil menggeser letak lehernya ke samping kiri, menoleh ke saya, sambil tersungging senyum seolah mengetahui apa yang akan dilakukan pemotor itu.

Kemudian, sebagaimana umumnya pemotor di Jakarta, kejadian selanjutnya bisa ditebak dengan mudah, dia tancap gas, lari kencang seperti dikejar anak jin iprit. Namun, mari kita gunakan prinsip berprasangka baik, bisa jadi anak pertamanya sudah meronta di garba istrinya.

Setelah lampu menghijau, Al Hafiz mengendarai motornya, melaju dengan tenang. Tak ingin segera sampai dan tak merasa dikejar makhluk apa pun. Kalaupun mesti harus segera sampai karena satu urusan, dia tetap mematuhi rambu-rambu lalu-lintas, baik siang maupun malam. Kecepatan motornya pun tidak mengkhawatirkan Polda Metro Jaya. 

Jika di siang hari, saat berkejaran dengan ribuan pemotor lain, Al Hafiz tetap saja kalem. Kecepatan tak lebih dari 30-40 km per jam. Dan ini yang penting, dia tak seperti pemotor lain yang menampakkan muka muram durja, seolah dunia dalam keadaan terancam dari serangan sepasukan luar angkasa; melainkan tetap saja senyum dan segar seperti danau yang dilindungi gunung. Roman mukanya di motor akan sedikit kacau, jika bukunya yang dipinjam orang tak pulang-pulang.  

Segala tata-tertib di jalanan, Hafiz patuhi semua. Dia memiliki SIM dan STNK serta pajak motornya dibayar tak meleset sehari pun. Jadi, dia tak pernah takut dengan polisi jenis mana pun, baik siang maupun malam, saat musim hujan ataupun kemarau. 

Jadi pemotor budiman, saya menduga lahir karena Hafiz terampil membaca kitab kuning, mengunyahnya bertahun-tahun, mengahayati dan tanpa sadar jadi tingkah lakunya. Tak heran, dia lain sendiri dengan pemotor-pemotor lain di hutan Jakarta. Saya yang pernah nyantri tak sampai pada levelnya. Jangankan pada level praktik, pada membaca kitab kuning pun saya sempoyongan. Sementara dia, mampu mengunyah tak hanya saat tenang di majelis taklim atau di warung kopi, tapi di jalanan. 

Coba saja, Saudara diboncengnya, terus bacakan barang beberapa kalimat bahasa Arab yang ditukil dari Duratun Nashihin misalnya, dia akan nengok ke belakang, jika Saudara salah baca.  

Kemampuannya bukan dicapai satu dua hari, tapi bertahun-tahun. Mungkin sejak dalam ayunan, sedari kecil sampai dia remaja. Pelajarannya dicatat di ingatan, buku, hingga daun pintu. Suatu waktu saya main ke rumahnya di Pondok Pinang. Tak sengaja saya memergoki pintu-pintu rumahnya ternyata penuh dengan kaidah-kadiah ushul fiqih.

Padahal dia tak pernah nyantri ke pondok pesantren mana pun, semisal ke Jawa, Aceh, maupun Lombok. Dia di rumah saja sejak kecil. Beruntung dia punya kakek, terampil membaca kalimat-kalimat jelimet warisan ulama lampau itu. Kepadanya Hafiz berguru bersama adik-adik dan sepupu-sepupunya. Kemudian dia rajin menghadiri pengajian keliling kiai jempolan asli Betawi, KH Syafi’i Hadzami dan KH Saifuddin Amsir. 

Penguasaanya pada kitab kuning bukan main-main karena diasah terus-menerus. Saya yakin suatu saat dia mendapatkan reputasi di bidangnya itu sebagai pembahas masalah fiqih yang andal. Dan itu hampir terbukti dan pasti akan terbukti. 

Kemudian, keahliannya itu dipertajam dengan memasuki Jurusan Tarjamah di Fakultas Adab UIN Ciputat. Tak heranlah ia mampu menerjemahkan kitab Al-Hikam Ibnu Athoillah yang populer itu. Tapi hinggi kini belum sempat diselesaikan karena urusannya sebagai orang tua baru, banyak menyitanya. 

Cuma sayangnya, dia gaptek naudzubillah. Bikin akun di medos saja perlu mengundang beberapa teman dengan merogoh Dji Sam Soe sebungkus. Bikin email saja tak becus. Setelah dibikinin, mengrim fail saja tak pernah ditautkan. Dan jika mau ngirim email di kesempatan lain, dia akan bertanya lagi, “email elu apa?”

Saya lebih sepuluh kali direpotkan pertanyaan ini. Dan lebih sepuluh kali pula menjelaskannya. Tapi diulang lagi. Urusan lebih lanjut di media sosial, unduh video Led Zeppelin di YouTube misalnya, dia harus berbisik seperti Raskolnikov yang tertekan secara psikologis setelah membunuh Lizaveta, seraya bilang "bagaimana caranya." Padahal dibanding saya, yang sejak kecil dekat kaki gunung, 60 km dari dari Monas, rumahnya lebih dekat ke Keminfo.

Kalau saja dia bukan pemotor budiman, terampil kitab kuning, dan belakangan saya tahu dia terampil bermain gitar dan menyukai musik rock, sudah saya tinggal sejak lama dia sebagai teman. 

Lepas dari itu semua, sampai saat ini, ada satu pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan. Entah kenapa, betisnya tak pernah dibiarkan tumbuh bulu barang selembar pun. Dia selalu menghajarnya saban kali tumbuh. Entah kitab mazhab mana yang jadi rujukan. Dia seperti ingin betisnya sepadan dengan kaki jenis kursi apa pun. 

*** 

Sementara, jika ada pihak tertentu menyelenggarakan pemilihan penumpang teladan, saya layak jadi nominasi. Sejauh ini, saya berperilaku wajar, tak pernah membahayakan pengemudi lain di jalanan. Saya tak pernah jumpalitan di jok misalnya atau teriak-teriak sepanjang jalan menyanyikan lagu Crazy Aerosmith tau Trumpled Underfoot Led Zeppelin yang sedikit banyak bisa jadi mengganggu konsentrasi pengguna jalan. Tidak pernah sama sekali. 

Jika dibonceng Hafiz, saya duduk manis saja. Paling sesekali merokok, lalu melemparkan puntung ke jalanan, tidak kap taksi atau muka polisi. Dan sesekali tak pakai helm. Di samping itu, saya juga tak pernah meminta lebih kepada pengendara. Tak minta untuk mempercepat atau memperlambat perjalanan atau ganti presiden. 

Tapi soal saya sebagai penumpang baik, seharusnya dilupakan saja. Saya malu rasanya menceritakan kebaikan diri sendiri.

Jakarta, 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar