Selasa, 30 Juni 2026

Penyakit Saya Belakangan Ini

Belakangan, saya mengidap sifat ingin mengabadikan pertemuan dengan difoto bersama dengan, katakanlah tokoh; baik agama, seni, pendekar pencak, atau orang-orang tua yang tak lama lagi dijemput Izrail.

Kecuali dengan tokoh partai, setinggi apa pun jabatannya, saya tak pernah berminat. Lagi pula saya tak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tokoh demikian di toilet umum, di kios barang loak, atau di tepi kuburan.  

Dalam hal ini, bukan berarti saya tak menghargai tokoh atau partai politik; karena merekalah konon negeri ini masih berjalan, meski karena mereka pula kadang negeri terpincang-pincang, masyarakat terseok-seok. 

Saya tak ingin dipotret bersama mereka lebih karena saya tak bangga berfoto saja dengan mereka. Saya tak tahu kenapa demikian. Mungkin pengamat politik seperti Fachry Ali atau Adi Pryaitno bisa menjelaskannya. 

Dokter mana yang bisa menyembuhkan penyakit ini?

Jika, ini jika, sebuah situasi memaksa saya berada di samping tokoh politik dan orang tua bau tanah, atau gelandangan berkaki borok. Lalu pikiran iseng untuk meminta diabadikan dalam potret. Maka, saya akan minta diabadikan dengan dua orang terakhir. 

Namun, sekali lagi, bukan berarti saya tak menghargai peran-peran tokoh politik.

Lalu bagaimana jika ada seorang agamawan atau seniman merangkap sebagai tokoh politik? Saya bukan orang yang kaku. Kalau ada kesempatan untuk itu, saya niatkan tidak dia sebagai tokoh politiknya. Selesai urusan. Gampang, bukan!  

Di pikiran saya, potret akan memperkuat ingatan saya dengan orang yang ditemu itu. Kemudian saya, kapan-kapan, akan bercerita kepada orang yang ingin mendengarkannya. Tentang sifat yang sering ingin dipotret bersama kalangan yang sudah saya sebutkan. 

Betulkah ini penyakit? Tapi tak apa-apa, saya menyukainya. Yang jelas sampai saat ini, saya berkesimpulan, penyakit ini tidak membahayakan umat manusia dan tak mengganggu ketertiban umum.  


Kenari, 29 Agustus 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar