Minggu, 10 Mei 2026

Melarung Suntuk ke Senen

Sore tadi, untuk mengusir suntuk, aku jalan-jalan ke Senen. Lebih tepatnya terminal Senen. Ke terminal, bukan hendak pergi ke mana-mana, tapi memang ke situlah tujuannya. 

Singkatnya begini, jika Saudara masuk ke terminal itu, tengoklah sebelah kanan, di sana berbaris toko-toko memajang buku-buku. Tentunya menghadap keramaian. Di situ bertumpuk-tumpuk buku, berjajar. Buku apa saja. Mulai dari komik, majalah, tabloid, buku pelajaran. Mulai dari buku ekonomi, manajemen, sejarah, sastra, budaya, musik, menu makanan, agama, hingga biografi. Dari mulai buku tua sampai yang terbaru. Buku asli hingga bajakan.

Persoalan harga, tergantung kepiawaian menaksir jenis buku. Bisa lebih mahal dari aslinya, bisa juga lebih murah. Ini persoalan jam terbang memahami keadaan. Di situlah aku menendang suntuk. Sebenarnya aku tak ingin ke situ. Bukankah di Jakarta masih terlalu banyak tempat melarung kesuntukan? Ini juga persoalan jam terbang. Aku tak punya pengetahuan itu sama sekali. Jadi, ke Senen adalah pilihan karena tak ada pilihan.

Pertama kali datang, yang kusambangi adalah buku yang ditebar. Soalnya di situ paling murah dan ditentukan harganya, Rp15.000 dua buah. Pertimbangannya, menyesuaikan dengan kocek di saku dengan harapan, barangkali ada buku bagus, maksudnya yang cocok dengan seleraku, yang tak sempat dibeli orang seselera.

Di antara buku yang ditebar, kulihat buku Lagu Hidupku; Autobiografi Komponis Nano S. Di bawah judul buku ada tulisan seperti dituturkan kepada Hawe Setiawan. Mungkin buku itu hasil wawancara, dan Hawe menyusun dan menuliskannya. Kupegang buku itu. Satu dapat. Pertimbangannya, sebagai orang Sunda, sejak kecil aku akrab dengan lagu-lagu Nano S. Kemudian buku wayang berjudul Pakem Padhalangan Ringgit Purwa: Warakesthi, karangan Soenarto Timoer, diterbitkan Balai Pustaka. Pertimbangannya karena buku ini tua, kapan lagi aku ketemu. Sedangkan isinya menyangkut wayang yang sedikit aku sukai. 15 ribu lepas.

Lalu, aku menyisir toko-toko lain. Waktu itulah kita dituntut ketenangan. Para penjual buku berseliweran sambil bertanya, "Cari buku apa, Bang?" Jika kita menyebutkan satu judul saja, ia akan pergi mencari buku itu. Dan jika ia berhasil menemukannya, maka harga sudah jahanam. Ia akan mencekik leher. Dan jika tak membelinya, muka suntuk akan dipasangnya, jika tak mengumpat dalam tujuh bahasa dengan membuang muka kesal. Aku selalu tak menggubris pertanyaan mereka. Kalaupun menjawab, biasanya begini, "Aku sedang jalan-jalan, sambil lihat-lihat buku," atau menyebutkan buku lama yang tak mungkin ada, atau menyebutkan nama buku yang memang tak pernah ada.

Di halaman sebuah toko, aku melihat buku-buku ditumpuk. Ke situlah aku mendekat. Aku berjumpa buku langka tak penting tapi berguna; pidato-pidato Presiden Soeharto terbitan PT Gunung Agung 4 jilid. Kubeli juga. Pertimbangannya, aku mengetahui bangsa ini lewat pidato resmi Sang Presiden masa Orde Baru. Semula, si penjual menawarkan harga 30 ribu per biji. Tapi setelah kutawar, jatuh kesepakatan 50 ribu semuanya. Berarti jatuh pada harga 16 ribuan per buah. Harga menjadi 60 ribu ketika aku meminta tambahan buku Ungkapan Tradisional sebagai Informasi Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan. Pertimbangannya, suatu saat aku akan pergi ke sana. Kapan saja, dengan cara apa saja harus ke sana. Sebelum ke sana, aku akan baca buku itu.

Sebelum pulang, penjual yang kukenal menarikku untuk mampir ke tokonya. Betul saja, buku-buku seleraku terpampang, karya Seno Gumira Ajidarma, Amir Hamzah, Nugroho Notosusanto dan penulis-penulis masyhur. Meski hari mendekati magrib, aku kalah berebut harga dengannya. Sepertinya ia memang spesialis buku-buku jenis itu. Jadi sangat tahu harga. Aku hanya bisa menggondol 3 buku dengan melepas uang Rp50.000,00.

Tiga buku itu adalah Hudjan Kepagian karya Nugroho Notosusanto terbitan Balai Pustaka cetakan 3 tahun 1966. Di jilid bagian dalam buku itu tertulis Yayasan Bunda Hati Kudus Perpustakaan. Lalu, buku Rasa Sayange yang juga karya Nugroho terbitan PT Pembangunan Djakarta, terbitan 1961, tanpa dicantumkan cetakan ke berapa. Di dalam buku itu ada satu tanda tangan. Mungkin itu pemiliknya semula. Entah siapa, entah di mana. Jika Saudara pemiliknya, aku hanya mengajukan satu tanya, "Atas dasar apa melepas buku itu?" Dan buku ketiga Esai dan Prosa Amir Hamzah. Sekilas aku baca pengantarnya oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Ia mengatakan, prosa dan esai itu pernah dimuat di Pujangga Baru.

Ketika pulang, di saku tinggal Rp3.500,00. Kubelikan sebatang rokok mild. Sementara sisanya cukup naik bus untuk pulang. Selama perjalanan pulang aku bertanya, apakah suntuk ini sudah benar-benar terbuang?

Kramat Raya, 7 Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar