![]() |
| Ilustrasi: https://id.pngtree.com |
Antasarah, bagiku mengungkap cinta kepada seseorang tak semudah membalikan telapak tangan. Sungguh memerlukan keberanian; menawarkan rasa malu yang entah datang dari mana, keengganan, dan entah rasa apa lagi yang menumpuk berlapis-lapis, menggumpal dalam ketakutan. Mungkin itulah sebab terciptanya mantera sugesti untuk mengungkapkan cinta.
Jika seseorang takut biasanya akan menghindar dari apa yang ditakutinya. Dengan cara apa pun. Semakin rumitlah karena yang ditakuti justru yang disukai. Benci, rindu dan barangkali dendam menjadi selimut malam dan siang.
Antasarah, begitulah, aku menjauhimu karena aku mencintaimu, entah jenis cinta apa. Mungkin cinta pecundang, rapuh, dan kecele.
Ingin saja aku melolong setinggi anjing dan menyalak setinggi serigala. Ingin rasanya menghantamkan tubuh ke batu karang seperti Gatot Kaca saat menahan renjana pada Dewi Pergiwa berharap mati membawa rasa ini.
Antasarah, cinta ternyata sumber penderitaan tersembunyi yang panjang. Layaknya jarum-jarum halus menghunjam di segenap pori-pori. Wujudnya hanya bayang-bayang yang tak pernah kujangkau. Gemerincingnya hanya ilusi tak terperi. Hanya getar yang entah...
Antasarah, bilakah kita berjalan bergandengan tangan, membelah malam, tanpa tujuan? Bilakah kita menyusur pantai pasir putih, lalu kuukir namamu, meski sebentar lagi disapu ombak? Bilakah kita mengangsur kesempatan itu? Atau tidak akan pernah karena itu hanya harap-pengap yang tak berbalas?
Antasarah, mendekatlah, setidaknya saat ini karena aku tak bisa lagi bertahan.
Aku terlalu rapuh…!
Antasarah, aku nyatakan rindu padamu, malam ini!
tgl x, bln x, thn x
Ciputat 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar