Tempurung kepala langsung mumet jika menghadapi rimba angka. Saya pernah berpikir, kenapa ada pelajaran yang membuat orang susah. Makanya, kalau ada orang menikmati pelajaran itu, saya haturkan salam salut seraya menjura 45 derajat.
Sekali waktu, saya pernah ketemu buku Bahasa Indonesia milik kakak kelas di lain sekolah. Di buku tersebut terdapat satu cerpen, judulnya Gerhana. Penulisnya Muhammad Ali. Saya tidak kenal penulis ini, karena dalam pembabakan tokoh sastra Indonesia tidak ditemukan. Mungkin karena informasi yang saya dapat sangat kurang.
Saya pun tergerak membacanya.
"Buah pepaya memang manis rasanya. Yang ranum pun sedap kalau dibikin rujak. Ada lagi keistimewaan pohon pepaya, ia tumbuh di segala musim, baik di musim hujan maupun musim kemarau. Jadi, tak ada alasan bagi siapa pun di muka bumi ini untuk memusuhi pohon dan buah pepaya."
Satu paragraf dibaca. Sampai di situ, pikiran saya terhenti sebentar. Kemudian lahir tanya, apa hubungannya gerhana dengan pepaya?
Kemudian si pengarang memperkenalkan tokoh bernama Sali. Dia pemilik pohon pepaya yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Suatu pagi, ia mendapatinya dalam keadaan tak bernyawa lagi, roboh membelintang di tanah. Pengarang menggambarkan buah pepaya yang jatuh tertimpa pohonnya demikian:
"Beberapa buah yang sudah ranum tertimpa batang yang gemuk hingga lumat berlepotan serupa tempurung kepala bayi remuk ditimpa penggada raksasa."
Dari kalimat tersebut, pengarang mengibaratkan buah pepaya tersebut serupa bayi-bayi manusia saja. Penggambaran ini merupakan pintu untuk memperkenalkan cara pandang dan karakter Sali. Ia melihat getah pepaya itu serupa darah.
"Getahnya yang menetes-netes, di matanya (Sali) persis darah segar kental, mengingatkannya pada cerita-cerita penyembelihan yang mengerikan."
Ketika diperhatikan, terang bahwa pohon itu memang ditebas benda tajam. Pada saat itu, datanglah seorang tetangga turut menyaksikan musibah itu. Yang jadi soal sekarang adalah siapa yang melakukannya? Seandainya Sali tahu, dia akan melunyah-lunyah pelaku itu, saat itu juga, karena menebangnya serupa ini sama dengan membunuh satu nyawa.
Bagaimana selanjutnya cerita itu? Baca saja sendiri. Kalau tak ada, cari! Terus terang, saya pernah kehilangan kumpulan cerpen yang di dalamnya memuat cerpen Gerhana tersebut, sekali. Tapi kemudian Tuhan, dengan segala kemurahannya mempertemukannya lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar