![]() |
| Luqman yang kini berbaju besi (Foto: Facebook) |
Tujuh tahun tidak ketemu, hampir saja saya lupa beberapa hal yang berkaitan dengannya. Maklum, hampir sewindu lebih digilas kaki sang waktu, meminjam istilah Iwan Fals, yang sombong.
Luqman. Satu kata. Saya lupa apakah huruf ketiga menggunakan Q atau K. Saya memberanikan diri menggunakan huruf Q dengan dua alasan. Pertama, supaya terkesan bisa dibaca. Kedua, nama Luqman biasanya menggunakan huruf Q. Tapi sekali lagi, saya tidak bisa memastikan apakah nama sahabat saya yang satu ini menggunakan huruf “q” atau “k”?
Untuk penyeragaman penulisan, karena dalam tulisan ini berulang kali mencantumkan kata “luqman”, saya menggunakan kebiasaan yang saya anggap “umum” untuk “luqman” dengan “luqman”.
Luqman. Satu kata. Konon ayahnya menginginkan lebih dari sekadar Luqman. Namun, ada Fathurohman mengiring di belakang Luqman. Tapi entah sebab apa di data-data resminya tetap satu kata, Luqman. Satu kata. Enam huruf. L, u, q, m, a, dan n.
Tahun 2000, saat SLTA, saya satu sekolah dengan dia di MAN Cibadak. Saya di kelas 1.3, sementara dia di kelas 1.7. Jauh benar. Namun, nama besarnya dekat, mampir ke telinga saya setiap akhir catur wulan dengan nilai-nilai yang dibanggakan ayahnya yang ingin ada Fathurohman di belakang Luqman.
Dialah pemegang nilai tertinggi dari tujuh kelas. Ranking di atas rangking. Dengan cepat, namanya meroket dan menjadi buah bibir di antara guru dan murid. Karena itu pula konon, beberapa eskul berupaya menggaetnya. Tapi karena dia Ketua Murid (KM), mau tidak mau, masuk ke MPK (Majelis Perwakilan Kelas).
Anak Garunggang ini memiliki air muka yang murah senyum, tenang, dan ramah, seperti dunia tak ada persoalan sama sekali. Jika berpapasan dengan siapa pun, air mukanya yang paling pertama berbicara sebelum bersapaan. Hal inilah yang kemudian dia mudah akrab dengan siapa pun. Sekaligus jarang berselisih dengan siapa pun. Makhluk mana pun takut berselisih dengan muka yang selalu senyum, bukan?
Namun, satu hal yang mengherankan, justru kalau bercanda, ia tampak serius.
Pada waktu kelas dua, nilai rapornya konon menurun, meski tetap ranking I di kelasnya. Hal ini menjadi perbincangan di antara guru dan murid. Salah satu analisis dari seorang teman, yang mungkin ini sebetulnya terkait karena dia berpacaran dengan seorang siswi yang sekelas dengan saya.
Saya pernah menuliskan sebuah risalah gayanya berpacaran karena “bercinta di angkot”. Saya harus menjelaskan, “bercinta” dalam kalimat tersebut maksudnya adalah naik angkot bolak-balik bersama kekasihnya bersama penumpang-penumpang lain. Rute “bercinta di angkot” itu adalah Cibadak-Cisaat, Cisaat-Cibadak, Cibadak-Cicurug, Cicurug-Cibadak.
Tahun 2003 kami sama-sama diusir waktu, keluar sekolah dengan selera hidup masing-masing. Bertahun-tahun tak pernah tahu kabar masing-masing. Di tahun 2008-an sempat mendapatkan nomor kontaknya dari salah seorang teman, tapi kemudian hilang seiring hilangnya sim-card saya.
Awal Oktober lalu, saya ditakdirkan ke rumahnya selepas berkumpul mendadak di rumah seorang teman seangkatan yang hendak berangkat ke tanah suci. Luqman satu-satunya yang datang dengan pakaian lain dari yang lain. Dia mengenakan baju dan celana besi.
Pakaian semacam itu, salah seorang teman menamakannya sebagai pakaian besi. Entah bagaiamana relasinya antara istilah itu dengan seragam PNS yang berprofesi guru, saya tidak tahu. Namun, istilah itu layak digunakan di sini.
Disebut mengenakan baju besi, guru sebuah MTs di Cikidang ini cuma tersenyum tanpa beban, kemudian minta kopi hitam kepada pribumi tanpa uluk salam sama sekali.
Selepas kangen-kangenan, saya dan salah seorang teman bernama Adi Asparudin bermalam ke rumahnya. Dengan mengendarai motor, kami menikmati lekuk-lekuk jalan Cikidang. Hampir satu jam perjalanan, kami sampai di rumahnya.
“Ini rumahmu?” tanya Adi.
“Hus, jangan keras-keras! Ini PMI.”
“Apaan tuh?” saya dan Adi hampir bersamaan.
“Masak, kamu nggak tahu. Wah ketinggalan zaman! Nggak gaul!”
“Palang Merah Indonesia,” saya menjawab.
“Bukan!”
“Lantas?”
“Puasa dulu 3 hari 3 malam baru dikasih tahu.”
“Sialan!”
“Man, apaan tuh, PMI?” tanya Adi memelas.
“Pondok Mertua Indah,” katanya sambil langsung ketawa ngakak. Dia tertawa untuk sesuatu yang sebetulnya tidak lucu.
Karena gerah, saya dan Adi duduk di beranda, sedangkan dia langsung masuk ke rumah.
“Ayah!” suara anak kecil memanggilnya. Adi pergi ke warung mencari rokok, sementara saya menatap ke kejauhan di antara suara jangkrik dan binatang malam lainnya.
Luqman datang menating nampan berisi makanan ringan dan kopi. Kami ngobrol ngalor-ngidul. Pada titik tertentu, kami sempat mengobrol tentang orang yang paling suka berguyon di daerah masing-masing.
“Ayah!” seru satu suara lagi. Tanpa pikir panjang Luqman masuk ke ruangan tengah. Oh, ada dua suara rupanya yang memanggil kata “ayah” kepada makhluk bernama Luqman di rumah ini.
Di pagi hari dengan cuaca yang bagus sambil menikmati gorengan, kami bercakap-cakap kembali. Luqman sudah berpakaian besi dengan muka klimis siap pergi mengajar.
“Man, siapa yang akan bikin rumah di tempat lapang itu?” tanya Adi sambil menunjuk pekerja yang mengangkut batu buat fondasi.
“Di situlah rumahku kelak!”
“Kapan?”
“Entahlah. Yang penting sudah memulai.”
“Luar biasa, pak guru kita ini,” kata saya.
“Adi, ayo kita pulang. Murid bengal pak guru mungkin sedang menanti di kelas.”
Luqman. Cuma satu kata. Selalu beberapa langkah di depan saya, seperti rangkingnya...
24 Oktober 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar