Ketika bertandang ke Pulau Tidung, saya sempat mampir ke rumah lelaki berusia 80 tahun. Kemudian ngobrol banyak hal. Dari mulai sejarah, budaya setempat, perubahannya; laut dan nelayan, pandangannya terhadap pesatnya pariwisata daerah itu, hingga urusan cinta masa mudanya.
Dalam hitungan jam kami bisa dikatakan akrab; hingga dia sempat mengajak saya memasuki kamar, tempat paling pribadinya. Ada lemari tua dengan buku-buku tua dan lampu teplok. Di salah satu dinding, tertempel gambar seseorang berpakaian rapi dengan sederet bintang di pundak. Raut muka gagah, klimis, tak satu bulu pun dibiarkan tumbuh. Sementara di kepalanya bertengger kopiah hitam: Soekarno!
2
Di majalah Horison, entah edisi berapa, saya pernah membaca cerita Asrul Sani yang sedang berkunjung ke salah satu negara di Afrika. Suatu ketika Asrul naik taksi. Di negeri mana pun, mulut berguna untuk berbicara, maka Asrul pun ngobrol ini itu dengan sopir. Entah menggunakan bahasa apa keduanya. Mungkin bahasa isyarat. Berdasarkan majalah Horison yang tak ingat edisinya itu, terjadilah obrolan di antara keduanya.
“Saya dari Indonesia,” kata Asrul Sani.
“Oh, Soekarno!”
Bayangkan, 17.000 pulau, ratusan ribu penduduk, ragam suku bangsa dan bahasa, yang dibayangkan sopir taksi Afrika itu hanya satu kata: Soekarno!
“Iya,” jawab Asrul sambil tertegun.
“Dia bukan hanya pemimpin Indonesia, tapi juga Afrika.”
Asrul kemudian berhenti karena sudah sampai tujuan. Ketika hendak membayar ongkos, sopir taksi melarangnya. Barangkali sopir itu ingin mengatakan seperti ini:
“Kita sama-sama pernah dipimpin Soekarno. Jadi, kita saudara jauh. Sekalinya bertemu, masak harus bayar.”
3
Di bilangan Ciputat, saya pernah sekali makan di sebuah warteg. Lidah saya kurang cocok dengan masakannya. Tapi karena lapar, habis juga sepiring. Pelajaran yang bisa diambil: lain kali saya tak usah makan di situ.
Tapi saya langsung meralat niat itu ketika tatapan terantuk pada dinding warungnya. Di situ terpampang gambar seseorang berpakaian coklat kehijauan dengan sederet bintang di pundak dan dada. Raut muka gagah, klimis, tak satu bulu pun dibiarkan tumbuh. Sementara di kepalanya bertengger kopiah hitam:
Soekarno!
4
Sekali waktu, teman saya yang memaksa dipanggil Pagar Dewo bercerita bahwa dia baru saja makan pecel lele yang mangkal di Ciputat. Karena sudah akrab, dia ngobrol ngalor-ngidul tanpa juntrungan. Kemudian jatuhlah pada obrolan tentang satu orang: Soekarno.
Tak perlu saya tuliskan apa yang diceritakan teman saya tentang kebesaran Soekarno. Bukan apa-apa karena akan sia-sia, ibarat menggarami lautan. Tapi setidaknya, bisa disederhanakan bahwa Soekarno tidak hanya nama yang mengacu kepada seseorang bernama Soekarno. Dia adalah kata kerja, bahkan semangat.
Kemudian teman saya menceritakan bahwa tukang pecel lele itu mendapati satu hal kekurangan Soekarno. Hanya satu hal. Lainnya tidak.
Saya penasaran; penasaran yang sama sebangun dengan penasaran teman saya ketika mendengar temuan tukang pecel lele itu.
“Sayang, Soekarno itu, kurang satu hal saja,” ungkap tukang pecel lele yang badannya tinggi besar, rambut lurus. Dan, kumisnya melintang tebal, baplang.
“Mudah jatuh cinta?” tebak teman saya.
“Bukan!”
“Terlibat Gestapu?”
“Juga bukan.”
“Lalu apa?” tanya teman saya penasaran. Dalam hatinya mungkin bertanya, apakah tukang pecel ini punya temuan data lain yang belum pernah tersebar? Atau cerita yang tak pernah diceritakan yang didapat dari leluhurnya. Mungkin juga dia punya sobekan koran di tahun 30-an yang sekarang diperlakukannya sebagaimana azimat.
Sementara tukang pecel, santai saja, asyik mengisap rokok kreteknya seolah mempermainkan kepenasaranan teman saya.
“Apa kekurangan Soekarno itu, Cak?” tanya teman saya lagi, tak sabar, sepertinya dia ingin melemparkan lele yang tinggal kepala dan kerangkanya yang beberapa cucuk tanggal.
“Ini tidak pernah ditulis dan tak ada di buku mana pun,” katanya sembari mengelus kumisnya yang baplang.
“Iya, apa?” teman saya sudah mengacung-acungkan kepala lele.
“Soekarno tak berkumis!”
Kenari, 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar