Jumat, 10 April 2026

Tagline Blog Pamanah Rasa: Tidak Untuk, Bukan Karena

Kini, tagline blog Pamanah Rasa milik saya adalah "tidak untuk, bukan karena" menggantikan “di kiwari ngancik bihari seja ayeuna pikeun jaga”. Tidak ada alasan khusus perihal pergantian ini. 

Tagline dimulai ketika saya mencoba menulis sebuah cerita. Entah kenapa, pada sebuah paragraf saya tiba-tiba menulis kalimat: tidak untuk, bukan karena; untuk menegaskan kalimat sebelumnya.

Jadi, pada dasarnya, tidak ada alasan khusus. Saya hanya senang saja dengan kalimat yang baru ditemukan itu.

Lalu, saya pernah mencoba update status di Facebook menggunakan kalimat itu: 

Abdullah Alawi :tidak untuk, bukan karena

15 Maret jam 0:46 · ·

Satu akun menyukai status itu. Lalu, beberapa akun turut berkomentar. Ada satu komentar teman saya demikian, “naïf dong”. 

Saya bertanya dalam hati, naif itu artinya apa, mengacu kepada apa atau siapa. Baiklah, saya lihat dulu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Demikian arti kata naif itu;

na·if a 1 sangat bersahaja; tidak banyak tingkah; lugu (krn muda dan kurang pengalaman); sederhana: gambar-gambar -- penuh menghiasi dinding kamarnya; 2 celaka; bodoh; tidak masuk akal: -- nya, kerugian sebanyak itu hanya diganti sepertiga; ke·na·if·an n perihal naif; keadaan naif: masyarakat Betawi banyak yg kecewa krn sinetron Betawi hanya mengeksploitasi keluguan dan ~ orang Betawi.

Kalau pengertian naif dari KBBI ini yag dipakai, berarti saya demikianlah adanya. setidaknya, menurut orang yang berkomentar itu.

Atau barangkali Naif yang mengacu kepada sebuah group musik. Saya menduga ada kalimat “tidak untuk, bukan karena” dalam salah satu liriknya. Tapi sayang saya tidak tahu lirik itu. Dan masalahnya saya tidak/belum konfirmasi kepada orang yang berkomentar itu.

Berberapa hari kemudian, setelah saya menulis status itu, saya menerima SMS dari seorang teman, demikian:

Kalau boleh tahu, apa maksud dari tidak untuk, bukan karena?

Saya tertegun beberapa saat karena jelas saya tidak bisa membalasnya. Akhirnya, Saya membalas SMS itu, demikian:

Saya sendiri tidak tahu maksudnya. Tapi senang dengan kalimat itu. Entahlah.

Dia membalas SMS saya demikian:

Ya, kadang kita tidak tahu alasan kenapa kita menyenangi sesuatu.

Saya tidak lagi membalas SMS-nya.

Saya kira, tak ada yang aneh dalam kalimat ini. Cuma memang tidak lengkap, ada kalimat yang hilang di depan dan di belakangnya. Lalu, kenapa hilang? Saya tidak tahu.


Semanggi II, 9 April 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar