Rabu, 25 Februari 2026

Kisah Priyambodo dan Mustokoweni atawa Jatuh Cinta Saat Meregang Nyawa

Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!

Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.

Munggahan: Ibu kepada Ayah dan Istri kepadaku, Lemparkan Saja Sebait Lagu Rindu

“Entar munggahan bagaimana?” tanya ibu kepada ayah dengan nada sedikit menggugat. Kata-katanya nyaris vonis hakim yang ditunggu. Tapi ditunggu beberapa saat, tak berkata juga dia. Seolah menimang-nimang keputusan mana yang dipilih.

Mahbub Djunaidi: Menulis Itu Harus Matang Sejak dalam Pikiran!

H. Mahbub Djunaidi (Foto:Ngopibareng.id)
Pada 27 Juli lalu, sekelompok mahasiswa di Ciputat merayakan ulang tahun ke-78 sang pendekar pena, H. Mahbub Djunadi, penulis kenamaan pada zamannya. Profesor Chotibul Umam, sebagai sahabat Mahbub di di harian Duta Masjarakat meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.

Pak Chotib yang sudah renta menghadiri acara tersebut meski dihubungi beberapa jam sebelum acara menimbang kedekatannya dengan Mahbub Djunaidi. Kehadirannya sebagai bentuk kecintaannya kepada sahabat, sebagaimana ia mencintai Zamroni, sahabatnya, yang juga sahabat Mahbub Djunaidi.

Rasa Malu dan Bintang Jasa

Screenshot unggahan di blog Pamanah Rasa
Alkisah, ada seorang raja di negeri antah-berantah. Pada suatu hari, dikabarkan ia diserang penyakit aneh yang ganas. Ia mendekati ajal, tapi sempat ditemui tiga anaknya. Berwasiatlah dia dengan menyuruh masing-masing anaknya untuk mengajukan permohonan.

Selasa, 24 Februari 2026

Tokek, Semut, dan Aku

"Tek…tek..tek …tekek, tekek, tekek…"

Aku menghitung suara tokek itu. Hingga tujuh kali berbunyi. Suara seolah mengatakan aku “ada disini.”

Dulu, ketika aku kecil sering menghitungnya pula. Bahkan lebih dari itu, sebagai patokan waktu. Jika ia berbunyi tujuh kali, berarti jam tujuh. Jika berbeda, maka jamlah yang salah.

Kemudian makhluk berwarna gading bertotol kemerahan yang menempel di pojok langit-langit kamar itu terdiam. Dan kemudian sepi. Sepi!