Cinta itu tumbuh antara Priyambodo dan Mustokoweni. Cinta yang hadir seketika. Seketika! Dan rupanya cinta itu berbalas. Mustokoweni mencintainya pula seketika. Seketika!
Padahal beberapa detik sebelumnya, keduanya adalah seteru; bertempur habis-habisan bersabung nyawa. Hingga kemudian Priyambodo melolos satu anak panah. Tepat sasaran di tubuh Mustokoweni. Tapi anehnya, panah itu tidak merenggut nyawa, melainkan menelanjangi. Segenap busana Mustokoweni tanggal.

