Selasa, 14 April 2026

Lelaki Itu Mantan Orang Waras

Mobil angkot 35 terseok-seok kelelahan di bawah sengatan matahari. Warnanya kusam, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Bannya sudah gundul dengan sopir setengah baya yang di kepalanya melingkar handuk kecil. Mukanya kemerahan dialiri keringat. Di mulutnya terselip sebatang rokok yang hampir menjadi puntung. Hanya beberapa orang saja isi penumpangnya.

Angkot itu berhenti di sebuah pangkalan ojek. Beberapa tukang ojek menyerbu angkot itu dengan gesitnya. Seperti magnet menarik besi-besi kecil. Dari dalam angkot itu keluar seorang lelaki. Beberapa tukang ojek langsung mengerubungi lelaki itu seperti semut mengerubungi gula.

Satu orang memegang tangan kirinya. Satu orang memegang tangan kanannya. Yang lain mengambil tasnya. Dan yang lain lagi membawa kantong plastiknya. Dan yang lainnya lagi menarik-narik bajunya. Dia seperti maling yang kepergok yang pasrah siap menerima hakim massa. Lelaki itu kemudian membayar ongkosnya. Angkot itu kemudian berlari.

Sebagai tukang ojek baru, aku hanya memperhatikan saja. Dalam beberapa hari ini aku hanya memperhatikan kejadian-kejadian, kebiasaan-kebiasaan di pangkalan ini. Aku selalu kalah dalam rebutan penumpang. Menjadi tukang ojek adalah pilihan terakhir setelah aku bosan membikin surat lamaran kerja dan mendengar kata, "Tak ada lowongan."

Aku melihat lelaki itu tenang-tenang saja. Dia seperti tidak kuatir akan barang-barangnya. Aku tahu ada saja temanku yang berlaku jahil dengan mencuri barang penumpang ketika terjadi ribut-ribut seperti itu. Sebenarnya dulu sudah ditertibkan, tapi setelah BBM naik, jadi tidak teratur lagi.

"Bang, Bojong, Bojong, ya."

"Cilulumpang kan?!"

"Ciseupan?!"

Lelaki itu dengan sikap tenangnya menepis tangan-tangan tukang ojek itu. Kemudian dia bicara, "Tenang, abang-abang tukang ojek. Tenang!" katanya seperti seorang pemimpin di hadapan anak buahnya. "Saya cuma satu orang dan Saudara-saudara begitu banyak. Kalau aku naik ojek pada satu orang, berarti aku tidak adil."

Mendengar kata-kata lelaki itu, aku kaget. Tapi tak semuanya tukang ojek menyimaknya. 

"Jadi sekarang bagaimana?" tanya salah seorang temanku. 

"Berapa jumlah tukang ojek di pangkalan ini?" jawab lelaki itu. 

Sumin, seorang tukang ojek yang paling tua yang sering dijadikan pemimpin dalam urusan-urusan tukang ojek bicara. 

"Kira-kira 23 orang."

"Berarti saya harus naik ojek 23 kali."

"Bagaimana maksudnya ini?"

"Begini, Saudara siapa namanya?"

"Sumin."

"Nah, saya pertama naik motor Bang Sumin sampai di rumah saya. Setelah itu, bawa lagi saya ke pangkalan ojek ini. Mengerti?"

Para tukang ojek itu diam, setengah tak percaya bercampur heran. Ini mungkin pengalaman pertama selama hidupnya. Bang Sumin, tukang ojek kawakan pun tak berbicara. Selama bertahun-tahun jadi tukang ojek, baru kali ini mengalami peristiwa seperti itu. Mereka sebenarnya ingin saling menanyakan, tapi mereka sudah tahu tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka hanya saling pandang seperti kena hipnotis. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Bagaimana Saudara-saudara, setuju?"

Mereka masih terdiam.

"Begini kalau kurang paham. Setelah abang ini membawa saya ke rumah dan membawa kembali ke pangkalan, kemudian, abang ini siapa namanya?"

"Japar," orang itu menyahut juga meski tak sepenuhnya mengerti.

"Nah, kemudian saya naik motor Bang Japar sampai ke rumah saya juga. Setelah sampai di rumah, bawa lagi saya ke pangkalan ojek ini. Begitu seterusnya hingga tukang ojek terakhir. Setuju?"

"Setuju!" Tapi suara itu tidak serempak, bahkan cuma satu orang.

"Begini, saya punya usul," kata salah seorang tukang ojek memberanikan diri. "Bagaimana kalau duitnya saja yang dibagikan dan Saudara tak perlu naik ojek kami seluruhnya. Itu jauh lebih mudah."

"Iya, lagi pula Saudara tak perlu capek. Saudara kan habis perjalanan jauh dan perlu istirahat, dan kami bisa irit bensin. BBM naik. Bensin mahal!"

"Iya," kata yang lain hampir serentak.

"Itu berarti enak buat Saudara-saudara, dan tidak adil bagi saya. Saya sudah lama tidak naik ojek. Saya senang naik ojek. Saya sudah lama tidak pulang kampung. Masalah saya capek atau tidak, atau perlu istirahat dan tidak, itu masalah lain. Saya ingin naik ojek sepuas-puasnya."

"Wah, itu namanya Saudara menyiksa diri. Saudara bisa sakit. Berobat sekarang mahal."

"Ini bukan masalah menyiksa diri atau tidak karena itu masalah saya. Apalagi masalah sakit dan rumah sakit. Dan Saudara-saudara tak perlu mempermasalahkannya. Permasalahannya sekarang adalah, Saudara-saudara mau atau tidak. Kalau mau katakan mau, kalau tidak katakan tidak. Selesai urusan."

"Kalau ditanya masalah mau atau tidak, ya jelas kami mau daripada bengong di pangkalan ini.” 

”Baik kalau begitu, berarti mau,” kata lelaki itu. ”Tapi ngomong-ngomong, berapa ongkos ojek sekarang?"

"Lima ribu."

"Karena saya bolak-balik, berarti saya membayar sepuluh ribu per orang, setuju?"

"Setuju!"

"Tapi saya punya satu permohonan lagi," kata lelaki itu.

"Apa itu?"

"Selama di perjalanan Saudara-saudara harus setuju dengan kenaikan harga BBM. Jangan mengeluh, apalagi memaki. Itu bisa subversif. Itu keputusan pemerintah. Kita harus menghormatinya."

Kontan saja kata-kata itu membuat tukang ojek itu pada kaget. Hal yang kontradiktif dengan keinginan mereka. Selama ini mereka merasa tercekik dengan keputusan itu.

"Siapa sebenarnya Saudara ini? Saudara pejabat? Intel? Propagandis kenaikan BBM?"

"Bukan! Saya bukan siapa-siapa. Saya sebenarnya orang daerah sini juga, tapi sudah sejak lama merantau. Saya warga negara yang baik, pengamal Pancasila seratus persen, pernah mengikuti penataran P4, hapal nama-nama menteri, bebas dari kasus G 30 S/PKI, menganut salah satu agama, keluarga ikut program KB, punya kartu tanda penduduk dan taat pada pemerintah. Bukankah kita harus taat pada mereka?"

"Kenapa Saudara setuju atas kenaikan harga BBM? Bukankah kita malah kelabakan? Harga-harga jadi naik!" kata yang lain. "Coba lihat saja. Sekarang orang banyak yang jalan kaki. Penghasilan kami berkurang."

"Di kampung saya sekarang banyak beralih ke kayu bakar."

"Pertanyaan Saudara-saudara itu seperti pertanyaan orang waras. Saya maklum pertanyaan orang-orang waras seperti Saudara. Dan seandainya saya waras, saya pasti akan bertanya seperti itu."

"Sudah, sudah! Kita tidak usah berdebat tentang masalah yang bukan wilayah kita. Apalagi permasalahan waras dan tidak waras. Tidak ada untungnya dan tidak akan ada yang mendengarnya," kata Sumin kesal. "Kalau ngojek, ya ngojek."

"Iya, kita bukan politikus atau pengamat. Mereka didengar omongannya, pemikirannya ditulis dalam buku tebal, dijadikan rujukan oleh kaum akademisi dan ada duitnya pula. Kita?"

"Saya setuju dengan Bang Sumin. Lebih baik kita mulai saja ngojek bolak-balik itu."

Kemudian Bang Sumin menyalakan mesin motornya yang sudah tua. Mesin menjerit. Knalpot memuntahkan asap. Kemudian berlari membawa lelaki itu meninggalkan pangkalan dilepas oleh pandangan tukang ojek yang masih kurang percaya dan sedikit geli.

Pangkalan yang biasanya ramai dengan sumpah-serapah, makian, dan guyonan cabul, kini sepi saja. Lelaki itu telah merampasnya. Mereka sekarang seperti tidak punya mulut. Mimik muka ada kecemasan menyergap. Waktu berjalan begitu lambat. Perjalanan ojek yang biasanya tak pernah terpikirkan terasa begitu lama. Menunggu memang menyengsarakan. 

Pangkalan terasa mencekam. Ada satu dua tukang ojek tak tahan dengan situasi itu, kemudian pergi tanpa basa-basi. Kemudian mungkin dia akan menceritakan kejadian di pangkalan ojek kepada setiap orang yang ditemuinya.

Dua puluh menit kemudian, Bang Sumin datang bersama lelaki itu. Sebagaimana perjanjian sebelumnya, lelaki itu tanpa bicara apa-apa langsung menaiki motor Bang Japar, kemudian Bang Pokel, kemudian Bang Bayan. Tidak tergurat di wajahnya keadaan lelah. Dia sepertinya benar-benar menikmatinya. Setelah ojek kelima, suasana canggung dan situasi mencekam di panggalan ojek mencair. Ternyata tak ada hal yang mengkhawatirkan mereka. Obrolan-obrolan khas pangkalan pun akhirnya sesekali muncul. 

Dan aku adalah tukang ojek terakhir yang akan mengantar bolak-balik lelaki itu.

Matahari sudah di barat. Cahaya emasnya masih menyemburat. Langit kelabu saja. Awan berarak menggumpal-gumpal menjelajah angkasa. Angin semilir bertiup. Sore semakin sore. Mendekati magrib.

"Kalau boleh saya tahu, kenapa Saudara menyetujui dengan kenaikan harga BBM?" tanya saya. 

"Begini, karena harga BBM naik, teman-teman saya di rumah sakit jiwa semakin banyak. Meningkat sampami seratus persen. Saya tidak tahu persisnya kenapa demikian. Saya adalah mantan orang waras. Seandainya saya orang waras, saya juga tidak akan setuju. Sebaiknya, sebelum mati, sempatkan dulu Saudara untuk tidak waras, Saudara pasti setuju kenaikan BBM."


Ciputat, 23 Desember 2005


Tidak ada komentar:

Posting Komentar