Senin, 13 April 2026

Jalan Aspal Bulan Lima

Orang-orang Pojok terharu ketika drum-drum berisi aspal datang ke kampung mereka. Sebentar lagi jalan desa akan hitam seperti di kota. Cita-cita bertahun-tahun hampir terlaksana. 

Mereka masih ingat betapa berat merelakan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan. Pohon kelapa, nangka, dan rambutan yang sedang lebat berbuah terpaksa dirobohkan. Menurut Pak Kades waktu itu, jalan kampung Pojok akan diaspal pada bulan lima tahun itu juga.

Namun, bulan lima tiba dan pengaspalan ternyata omong kosong belaka. Masyarakat bertanya, tapi tak ada jawaban pasti. Pak Kades jarang di kantor desa. Di rumah pun istrinya selalu menggeleng kepala. Jika di antara mereka ada yang berani menagih janji, mereka hanya akan mendapat janji baru. Mereka pun kembali bersabar, menunggu sambil membajak sawah, menyiangi kebun, dan membabat huma. Mereka tetap membayar pajak dengan patuh karena Pak Kadus tak pernah absen menagih meski kakinya dijangkiti reumatik. 

"Mungkin bulan lima tahun depan," pikir mereka.

Harapan terus dipelihara. Bulan lima datang lagi, namun hari-hari dilalui dengan harap-harap cemas yang berujung hampa. Ketika bulan itu lewat, masyarakat Kampung Pojok kembali bertanya kepada Pak Kades, namun hanya mendapat jawaban berbelit-belit yang tak dimengerti. Mereka pun pulang dengan sebuah tanya besar.

“Ada apa dengan Pak Kades?” 

Kesabaran itu pun kembali dipaksa bekerja di sawah dan kebun. Mereka yakin orang sabar disayang Tuhan, dan pajak pun tetap mengalir ke kantong desa meski reumatik Pak Kadus tak kunjung sembuh.

Tahun demi tahun berlalu. Bulan lima datang dan pergi tanpa pamit, tanpa membawa aspal, tanpa stoom. Hingga akhirnya pemerintahan desa berganti, harapan baru pun muncul. Tapi ketika ditanyakan, kades baru hanya memberi jawaban mengecewakan. 

“Itu urusan pemerintah yang lalu, kami tidak tahu-menahu.” Kades baru rupanya tak berbeda dengan kades sebelumnya. Cuma lain orang saja.

Satu per satu sesepuh kampung Pojok tutup usia. Sebelum mengembuskan napas terakhir, mereka selalu berwasiat. 

“Bulan lima jalan kampung kita akan diaspal.” Anak-cucu yang mendengar hanya bisa bertanya berbarengan. 

“Bulan lima tahun kapan?” 

Namun maut lebih dulu menjemput sebelum jawaban terucap. Mereka pergi selamanya tanpa pernah melihat aspal.

Masyarakat Kampung Pojok akhirnya merawat "bulan lima" sebagai bagian dari takdir. Mereka mengaitkan bulan itu pada setiap peristiwa hidup: gagal panen, gerhana matahari, hingga kebakaran rumah tetangga. Di warung kopi hingga taruhan gundu anak-anak, semua berputar pada poros "bulan lima". Para orang tua bahkan membisikkan pada telinga bayi yang baru lahir bahwa jalan akan diaspal pada bulan tersebut.

Hingga suatu hari, drum-drum aspal itu benar-benar dipanaskan. Stoom merayap seperti ulat meratakan batu kerikil. Seluruh masyarakat menunda pergi ke sawah; mereka hampir tak percaya jalan kampung mereka akan hitam dan rata seperti di kota. Tapi, ada ganjalan besar: pengaspalan dilakukan pada bulan dua belas, bukan bulan lima. Para orang tua yang ingat betul wasiat leluhur pun mulai bertanya-tanya.

“Aku bermimpi almarhum orang tuaku datang. Dia bilang, jika pengaspalan terjadi bukan di bulan lima, jalan tidak akan bertahan lama. Selain itu, akan datang sesuatu yang belum pernah terjadi,” lapor seorang warga di pos ronda. Kegelisahan itu menyebar. Mereka sepakat mengutus seseorang untuk bertanya kepada pekerja esok harinya.

“Kenapa pengaspalan jalan bukan bulan lima?” tanya utusan itu. 

Para pekerja hanya menunjuk pada mandor bertopi dan berkacamata hitam. Sang Mandor, saat dihampiri, hanya tersenyum simpul. 

“Kami hanya menjalankan tugas atasan. Pada bulan satu nanti akan ada Pilkada—Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.” 

Dia lalu membisikkan sesuatu yang membuat warga itu mengangguk-angguk bingung. Kenapa aspal harus dihubungkan dengan Pilkada? Bukankah ini janji leluhur yang tak butuh kampanye?

Keesokan harinya, Mandor membagikan kalender kepada seluruh warga sambil kembali membisikkan sesuatu. Pengaspalan pun selesai. Pekerja pulang bersama stoom yang dilepas haru. Namun, sebuah kenyataan pahit muncul: kendaraan yang melintas dengan gagah di sana bukanlah milik orang Pojok, melainkan orang kampung tetangga. Penduduk Kampung Pojok tetaplah pejalan kaki di atas aspal milik mereka sendiri.

Demi gengsi dan kebutuhan, warga Kampung Pojok mulai memaksakan diri. Kambing dijual demi sepeda anak-anak; kerbau, sawah, hingga rumah digadaikan agar anak muda bisa membeli motor untuk bersaing dengan pemuda kampung sebelah. Tak berhenti di situ, maling pun mulai berkeliaran, dengan mudah kabur lewat jalan aspal yang halus. Ketertiban pun runtuh saat maling yang tertangkap dibakar hidup-hidup—sebuah kejadian kelam yang tak pernah ada dalam memori kampung itu.

Para orang tua hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka semakin yakin bahwa kutukan itu nyata: pengaspalan ini membawa petaka karena tidak dilakukan pada bulan lima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar