![]() |
| D. Zawawi Imron |
Lalu, kenapa harus sumur dan kenapa pula harus memaksakan diri menyanyi untuk anak orang yang tak dikenal. Begitulah aku saksikan penyair gaek berjuluk Clurit Emas dari pulau garam, D. Zawawi Imron.
Dia menyanyikannya seraya kedua telapak tangan bertepuk halus, di hadapan anak 3 tahunan, disaksikan belasan penumpang Commuter Line Bogor-Kota. Orang tua anak itu pun hanya senyum-senyum.
Dia yang menurut sastrawan Martin Alieda sebagai raksasa dari Madura, rupanya tak hanya mau berkomunikasi dengan sejawatnya sesama sastrawan, tapi juga dengan anak kecil. Bahkan ketika anak itu hendak turun bersama orang tuanya, dia menawarkan supaya menggenggam tongkatnya terlebih dahulu.
Mungkin, segerbong atau bahkan se-KRL itu tak ada yang tahu, kakek kelahiran 1945 tersebut pernah menggondol Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dari Kerajaan Malaysia pada Nopember 2010. Tahun 2011 mendapat hadiah dari Badan Pengembangan dan Pembidaan Pusat Bahasa, dan Februari 2012 dianugerahi Sea Asia Award dari Kerajaan Thailand.
Tiba-tiba entah dari mana sumbernya, aku berharap, suatu saat kelak, anak berambut ikal berkuncir dua itu bisa bertemu lagi dengan penyanyi panjang sumurnya, panjang sumurnya, panjang sumurnya tersebut. Kalaupun tidak secara jasad, semoga dengan karya-karyanya.
Setahun lalu, aku mengantar Zawawi di kereta dengan jurusan sama. Kalau sekarang kami sama-sama berhenti di Manggarai, waktu itu di Gambir. Sepanjang perjalanan kami ngobrol. Aku rekam. Tapi rupanya dia tahu hingga memintaku mematikannya. Aku mengiyakan dengan berbohong. Aku menyimpannya di saku kemeja tanpa mematikannya.
Di kemudian hari, sebelum aku mendengarkan ulang, rekaman tersebut hilang duluan.
Sepanjang perjalanan waktu itu, selain ngobrol denganku, juga sempat berbicara dengan orang di sampingnya. Entah bagaimana memulainya, dia selalu bisa akrab dengan orang di dekatnya. Termasuk dengan orang tua dan anak yang dihadiahi nyanyian panjang sumurnya.
Dia tak seperti penumpang lain yang sering kutemukan. Ketika duduk, langsung bermain ponsel, pasang hedset, sementara orang-orang di sekitarnya seperti sesuatu yang harus dijauhi, tak layak menjadi bagian untuk ngobrol.
Aku sebenarnya ingin meniru kepiawaian Zawawi Imron dalam berkomunikasi, tapi selalu gagal. Bahkan gagal sebelum mencoba. Aku sama dengan yang lain, menjadi penumpang diam. Jika di KRL, hku hanya membatin, bahwa aku berada di sini, di tengah banyak orang. Sebegitu banyaknya orang, tak ada satu pun bisa kuajak ngobrol.
Lain cerita jika ada kamu.
Seandainya kamu selalu menyertai perjalananku.
Rawasari, 12 Mei 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar