Sabtu, 11 April 2026

D. Zawawi Imron dan Kepiawaian Membangun Kehangatan di KRL

Ilustrasi orang-orang dalam KRL
Panjang sumurnya, panjang sumurnya, panjang sumurnya
...” lelaki tua menyanyikan kalimat-kalimat itu dengan langgam selamat ulang tahun seba
gaimana umumnya. Sebab, mungkin anak itu tidak sedang berulang tahun, makanya ditambahkan satu huruf di muka. 

Lalu, kenapa harus sumur dan kenapa pula lelaki tua itu harus memaksakan diri menyanyi untuk anak orang yang tak dikenal. Ketemu juga pertama kali di KRL.

Begitulah isi kepalaku saat menyaksikan penyair gaek berjuluk Clurit Emas dari pulau garam, D. Zawawi Imron saat membersamainya dalam perjalanan KRL. 

Dia menyanyikan panjang sumurnya seraya kedua telapak tangan bertepuk halus, di hadapan anak 3 tahunan, disaksikan belasan penumpang Commuter Line Bogor-Kota. Orang tua anak itu pun hanya senyum-senyum dan menyambut hangat seperti kepada ayah atau mertuanya.  

Lelaki tua yang menurut sastrawan Martin Alieda sebagai raksasa dari Madura, rupanya tak hanya berkomunikasi dengan sejawatnya, tapi juga dengan anak kecil. Namun, pertemuan itu berakhir ketika anak itu dibawa turun orang tuanya di satu stasiun. Lelaki tua itu masih menawarkan anak itu menggenggam tongkatnya terlebih dahulu. 

Mungkin, segerbong atau bahkan se-KRL itu tak ada yang tahu, lelaki kelahiran 1945 tersebut pernah menggondol Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dari Kerajaan Malaysia pada November 2010; pada 2011 mendapat hadiah dari Badan Pengembangan dan Pembidaan Pusat Bahasa, dan Februari 2012 dianugerahi Sea Asia Award dari Kerajaan Thailand. Kecuali di satu gerbong terpisah ada H.B. Jassin atau Ajip Rosidi.  

D. Zawawi Imron

Tiba-tiba entah dari mana sumbernya, aku berharap, suatu saat kelak, anak berambut ikal berkuncir dua itu bertemu lagi dengan penyanyi panjang sumurnya, panjang sumurnya, panjang sumurnya tersebut. Kalaupun tidak secara jasad, semoga dengan karya-karyanya. 

Aku ingat pula, tahun lalu mengantar Zawawi Imron di kereta dengan jurusan sama. Sekarang kami sama-sama berhenti di Manggarai, waktu itu di Gambir. Sepanjang perjalanan kami ngobrol. Aku rekam. Tapi rupanya dia tahu hingga memintaku mematikannya. Aku mengiyakan dengan berbohong. Aku menyimpannya di saku kemeja tanpa mematikannya. 

Di kemudian hari, sebelum aku mendengarkan ulang percakapan kami, rekaman tersebut hilang duluan. 

Sepanjang perjalanan waktu itu, selain ngobrol denganku, juga sempat berbicara dengan orang di sampingnya. 

Aku tak ingat entah bagaimana memulainya, dia selalu bisa akrab dengan orang di dekatnya. Termasuk dengan orang tua dan anak yang dihadiahi nyanyian panjang sumurnya. Bahkan jika bersama dengannya dia selalu didatangi orang yang mengaku anaknya. Dia memang sering menyapa anakku kepada anak muda. 

Dia tak seperti penumpang lain yang sering kutemukan. Biasanya mereka ketika dapat tempat duduk, langsung bermain ponsel, pasang hedset, atau berdiam diri memejamkan mata untuk segera lari ke alam tidur. Aku merasa orang-orang di KRL seperti sekelompok murid yang belajar meditasi. Mereka orang-orang di sekitarnya seperti sesuatu yang harus dijauhi, tak layak menjadi bagian untuk ngobrol. 

Aku sebenarnya ingin meniru kepiawaian Zawawi Imron dalam berkomunikasi, tapi selalu gagal. Bahkan gagal sebelum mencoba. Aku sama dengan yang lain, jadi penumpang yang belajar meditasi. Jika di KRL, aku hanya membatin, bahwa aku berada di sini, di tengah banyak orang. Sebegitu banyaknya orang, tak ada satu pun bisa kuajak ngobrol tentang catur atau novel Fredy S.

Rawasari, 12 Mei 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar