Jumat, 10 April 2026

Lady Geugeu yang Menyukai Lady Gaga

"Aa, tolong download-in lagu Lady Gaga, ya!" pinta Geugeu, adik perempuanku, ketika aku hendak berangkat ke warnet dua tahun lalu. Aku mengernyitkan dahi.

"Lady Gaga? Siapa itu?" tanyaku heran. 

Dia kemudian menjelaskan profil singkat artis itu dengan semangat. Aku yang sudah enam tahun merantau di Jakarta ternyata kalah update dengan adikku yang tinggal di kampung ini. 

Rasa penasaran membawaku menyambangi warnet yang berjarak tujuh kilometer dari rumah hanya untuk mencari tahu siapa Lady Gaga sebenarnya, dan tentu saja, mengunduh beberapa lagu pesanannya.

Geugeu adalah adik perempuanku satu-satunya. Aku masih ingat betapa lucunya dia kala kecil, dengan rambut poni yang bergoyang ke sana ke mari saat berlarian mengitari halaman rumah kami yang luas. Sebagai anak bungsu, dia menjadi kesayangan sekaligus "mainan" keluarga. 

Akulah pengasuh utamanya setiap kali Ayah dan Ibu pergi ke sawah atau kebun. Meski kadang menyebalkan karena terlalu dimanja dan mudah menangis jika keinginannya tak terpenuhi. 

Dia lumayan cerdas. Prestasinya di sekolah di seluruh jenjang selalu membanggakan; sering meraih ranking satu. Paling buruknya pun tak pernah keluar dari sepuluh besar.

Seiring waktu, Geugeu memilih jalan hidup dengan nyantri di Pesantren Tradisional Siqoyatur Rahmah, Selabintana, Sukabumi. Di sana, kemampuannya makin terasah hingga terakhir kudengar dia menyabet juara pertama lomba baca Kitab Kuning "Gundul". 

Dalam hal ini, aku jelas mengaku kalah telak. 

Sebagai santriwati, dia tak pernah memiliki sehelai pun celana panjang.Selalu setia dengan kerudung, baju panjang, dan roknya. Namun, jangan salah, dia tetap tangkas mengendarai sepeda motor, menaklukkan jalanan kampung kami yang terjal dan berbatu di perbukitan. Sesekali tepuk shuttlecock (kok) dengan teman-temannya. 

Setelah berhasil mengunduh lagu-lagu Lady Gaga yang dia minta, aku memindahkannya ke ponsel Geugeu melalui komputer. Begitu musik berputar, pemandangan kontras pun terjadi: Geugeu berjingkrak-jingkrak kegirangan di tengah rumah sambil menirukan suara sang bintang pop itu. 

Beberapa hari kemudian, aku diam-diam masuk ke kamarnya dan mengintip buku harian yang pernah kubelikan untuknya. Di kulit muka buku itu, tertulis sebuah identitas baru: "Milik Lady Geugeu..."

Kini, ketika kabar Lady Gaga urung konser di Indonesia, ramai diperbincangkan dengan bermacam alasan, aku kembali teringat pada "Lady Geugeu"-ku di pesantren. Di sana, dia sepertinya biasa-biasa saja, tak merasa terancam oleh apa pun, apalagi menyangkut keimanan. 

Di sela-sela kesibukannya ngalogat, menghafal kitab Alfiyah, ngelal, hingga ngerab, Lady Geugeu terbukti masih bisa menikmati Paparazzi, Judas, Bad Romance, hingga You and I.

Sukabumi, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar