"Lady Gaga? Siapa itu?" tanyaku heran.
Dia kemudian menjelaskan profil singkat artis itu dengan semangat. Aku yang sudah enam tahun merantau di Jakarta ternyata kalah update dengan adikku yang tinggal di kampung ini.
Rasa penasaran membawaku menyambangi warnet yang berjarak tujuh kilometer dari rumah hanya untuk mencari tahu siapa Lady Gaga sebenarnya, dan tentu saja, mengunduh beberapa lagu pesanannya.
Geugeu adalah adik perempuanku satu-satunya. Aku masih ingat betapa lucunya ia kala kecil, dengan rambut poni yang bergoyang ke sana ke mari saat ia berlari mengitari halaman rumah kami yang luas. Sebagai anak bungsu, ia menjadi kesayangan sekaligus "mainan" keluarga.
Akulah pengasuh utamanya setiap kali Ayah dan Ibu pergi ke sawah atau kebun. Meski kadang menyebalkan karena terlalu dimanja dan mudah menangis jika keinginannya tak terpenuhi, Geugeu anak yang cerdas. Prestasinya di sekolah selalu membanggakan; ia sering meraih ranking satu, dan prestasi paling buruknya pun tak pernah keluar dari sepuluh besar.
Seiring waktu, Geugeu memilih jalan hidup yang religius dengan nyantri di Pesantren Tradisional Siqoyatur Rahmah, Selabintana, Sukabumi. Di sana, kemampuannya makin terasah hingga terakhir kudengar ia menyabet juara pertama lomba baca Kitab Kuning "Gundul".
Dalam hal ini, aku jelas mengaku kalah telak darinya. Meski kini menjadi santriwati, sejak kecil ia memang tak pernah memiliki sehelai pun celana panjang. Ia selalu setia dengan kerudung, baju panjang, dan roknya. Namun, jangan salah, ia tetap tangkas mengendarai sepeda motor menaklukkan jalanan kampung kami yang terjal dan berbatu di perbukitan.
Setelah berhasil mengunduh lagu-lagu Lady Gaga yang ia minta, aku memindahkannya ke ponsel Geugeu melalui komputer. Begitu musik berputar, pemandangan kontras pun terjadi: Geugeu berjingkrak-jingkrak kegirangan di tengah rumah sambil menirukan suara sang bintang pop dunia itu.
Beberapa hari kemudian, aku diam-diam masuk ke kamarnya dan mengintip buku harian yang pernah kubelikan untuknya. Di kulit muka buku itu, tertulis sebuah identitas baru yang jenaka: "Milik Lady Geugeu..."
Kini, ketika kabar Lady Gaga urung konser di Indonesia ramai diperbincangkan dengan bermacam alasan, aku kembali teringat pada "Lady Geugeu"-ku di pesantren. Di sana, ia sepertinya biasa-biasa saja, tak merasa terancam oleh apa pun, apalagi menyangkut keimanan.
Di sela-sela kesibukannya ngalogat, menghafal kitab Alfiyah, ngelal, hingga ngerab, Lady Geugeu terbukti masih bisa menikmati Paparazzi, Judas, Bad Romance, hingga You and I.
%20(1).png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar