![]() |
| Pak Hery Hermawan |
Dia adalah guru olahraga saya ketika di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cibadak. Orangnya ceria dan murah senyum, serta berkumis seperti Iwan Fals masa muda. Dan selalu ada pluit tergantung di lehernya.
Dialah yang mengajari saya jurus-jurus Sajojo, Poco-Poco, dan Senam Santri. Namun, sayang tidak mengajari main catur.
Semua jurus-jurus senam itu tak pernah saya hafal sepanjang hayat. Saya hanya bisa memperagakannya saat berjamaah dengan meniru gerakan teman di depan. Kalau munfarid, dan itu tak pernah dilakukan, saya mustahil melakukannya.
Saya mungkin tak dilahirkan sebagai pesenam pilih tanding di jenjang sekolah tingkat apa pun dan dimana pun. Apalagi penari balet karena bentuk betis saya menyerupai betung. Lebih cocok untuk bek atau penata pematang sawah milik sendiri maupun tetangga.
Meski demikian, Pak Hery selalu memberi nilai cukup untuk rapor sehingga tak mempermalukan saya di hadapan 7 leluhur ke atas dan 7 keturunan ke bawah. Mungkin karena saya jarang absen, berkelakuan baik, tak terlibat G 30/S PKI, bercampur kasihan. Kemungkinan besar karena kasihan. Lalu, kenapa kasihan ke saya? Itu masih misteri sampai sekarang.
Sebetulnya, tidak elok saya menilai dia yang memberikan nilai karena kasihan. Itu mencederai profesionalitasnya sebagai guru olahraga. Alhasil, kemungkinan besarnya adalah karena saya rajin ikut olahraga. Tak ada alasan lain selain itu.
Lebih dari itu, meski guru olahraga, Pak Hery berbakat menyanyi. Sekali dua, saya melihat dia memetik gitar sembari menyanyi lagu Iwan Fals, "Bung Hatta" dan "Belum Ada Judul". Mungkin di lain kesempatan, tanpa kehadiran saya, dia menyanyikan lagu lain yang entah.
Baiklah, sebagai penghormatan terakhir kepadanya, saya pinjam lagu Iwan Fals yang pernah dinyanyikannya:
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...
1 April 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar