Rabu, 25 Februari 2026

Doel Sumbang (2): Mucikari yang Terus Menjadi

Mucikari salah satu lagu Doel Sumbang
(Foto: Akun YouTube)
Dalam produktivitas mencipta lagu, penyanyi Doel Sumbang tak usah diragukan lagi. Sementara jika disimak, dalam beberapa syairnya, kita bisa mencium aroma hibrida, percampuran budaya dalam seseorang. Identitas pun menjadi terpecah.

Hal ini tidak lepas dari semakin mengerutnya dunia karena teknologi transportasi dan komunikasi. Jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain begitu mudah. Misalnya, sesorang mandi pagi di Jakarta, makan siang di Hanoi, makan malam di Pyongyang, tidur di Beijing dan menikmati sarapan pagi Moskow dalam waktu yang tidak lama. 

Informasi tersebar dengan cepat; berita pembajakan pesawat di Libya, demontrasi di Iran bisa terdengar di La Paz dalam waktu bersamaan. Hal itu memungkinkan perjumpaan berbagai latar belakang, mulai etnis, agama, negara. Dan, pernikahan pasangan berbagai identitas terbuka lebar. Percampuran antarlatar belakang pun tak bisa dihindari.

Bisa disimak dalam lagu berjudul "Jasundo" pada album Martini (1985) yang berarti Jawa, Sunda, Manado. Pada lagu "Naksir" di album Laut (1996) dia menyebut Hongaria yang berarti papa Hongkong ibu taman ria. 

Pada lagu lain, identitas terpecah tak kalah dahsyatnya. Terutama lagu berjudul Mucikari:

Bapak Taipei

Mama Indramayu

Dia sendiri mirip Gadis Turki,

Mengaku lahir di Los Angeles

Bagaimana identitas si anak tidak terpecah, ia memiliki campuran ragam etnis. Pertama, Taipei (Taiwan) yang mengalirkan darah Tionghoa dari garis ayah. Kedua dan Indramayu (Indonesia) yang mewariskan suku Sunda atau Jawa dari garis ibu. Sementara wajah si anak mirip gadis Turki (Timur Tengah). Ini mungkin si anak mengambil wajah dari garis kakek atau nenek dari pihak ibu atau ayah yang memiliki darah Turki). 

Tidak hanya sampai di situ, identitas si anak juga dibesarkan dalam kultur atau identitas kebudayaan yang belainan. Dia menghabiskan masa kecil hingga remaja, tumbuh dan berkembang di berbagai tempat. Simak lirik lanjutannya 

SD-nya Bali, SMP di Bogor, SMA Bandung,

Keterpecahan identitas semakin dahsyat karena selepas SMA di Bandung, memasuki masa dewasa, si anak melanjutkan kuliah di lokalisasi. 

Tak tanggung-tanggung hampir semuanya pernah disambangi. Ia pernah kuliah di Tandes (Surabaya), Sunan Kuning (Semarang) Sarkem (Yogyakarta), Dolly (Surabaya), Kramat Tunggak (Jakarta) dan Saritem (Bandung). Kemudian dia menjadi seorang mucikari.

Si anak dengan bapak Taipei, ibu Indramayu dengan wajah mirip gadis Turki tersebut seolah berakhir pada mucikari. Tentu saja tidak. Keterpecahan-keterpecahan identitas akan terus menjadi dan terus menjadi. Mucikari bukan akhir. Bisa jadi awal.

Bukankah manusia selalu dalam proses?  

Karenanya, perjalanan identitas si anak dengan bapak Taipei, ibu Indramayu dengan wajah mirip gadis Turki itu akan terus berubah. 

Selepas mucikari, mungkin saja dia menjadi seorang politikus yang senang mengelus kepala anak yatim di panti dalam jepretan kamera, olahragawan yang senang rajin berkhotbah tentang diet, pengusaha yang senang mengemplang pajak, penguasa yang gemar mencipta lagu, tapi lupa kelaparan rakyatnya; YouTuber yang gantung akun, menteri yang pandai mem-bail out bank, penggali sumur serabutan, atau pemimpin sebuah sekte yang punya jemaah fanatik di berbagai tempat!


Ciputat, 13 Januari 2010


Lirik lengkap Mucikari

Bapak taipei

Mamah indramayu

Dia sendiri mirip gadis turki

Mengaku lahir di los angeles


SD nya Bali

SMP nya Bogor

SMU Bandung

Selepas sekolah

Kuliah dilokalisasi


Sunan kuning,dolly, kramat tunggak dan saritem

Semua pernah di singgahi

Mucikari dia kini


Banyak langganan

Mulai copet, rampok dan koruptor

Tak jarang para mahasiswa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar