Minggu, 02 April 2023

Celurit Emas Kepincut Nescafe 3 In 1

Malam ini, untuk kedua kalinya saya berjumpa sastrawan besar asal Madura, Si Celurit Emas, Zawawi Imron. Dia ke Jakarta atas undangan RRI untuk membaca puisi dan orasi kebudayaan menjelang buka puasa sore nanti, Senin, (14/08).

Beberapa waktu lalu, saya pernah ketemu penulis antologi puisi Kelenjar Laut ini. Ia ke Jakarta dalam acara serupa di TIM. Sebelum pulang, ia dibelokan Hamzah Sahal ke Ciputat.

Mendapat kabar ini, sahabat-sahabat Ciputat langsung gegap-gempita, bergerak untuk menjamunya. Jamuan kepada sastrawan adalah menimba semangat atas kreativitasnya, mengapresiasi karya-karyanya dan mempertemukannya dengan sastrawan lain. Diundanglah Yanusa Nugroho, penulis novel Di Batas Angin, dan AS Laksana, Bidadari yang Mengembara.

Twitter

Ada dua jejaring sosial yang digandrungi saat ini, setidaknya di Indonesia: Twitter dan Facebook. Twitter diciptakan Jack Dorsey, sementara Facebook Mark Zuckerberg. Keduanya masih muda dan kemudian kaya raya.

Di Facebook, hubungan satu akun dengan lainnya, dinamakan berteman, sementara di Twitter, adalah ikut-mengikuti. Tulisan ini bercerita tentang hubungan pengikut dan yang diikuti di Twitter.

Di Twitter, akun yang mengikuti disebut follower, yang diikuti following. Kata ikut, dalam kamus online berarti: 1) menyertai orang bepergian (berjalan, bekerja, dsb); turut; serta; 2 melakukan sesuatu sebagaimana dikerjakan orang lain.

Gus Dur Mewarisi Kebijaksanaan Nabi Sulaiman

Sejak usia dini, Gus Dur gemar membaca buku. Buku apa saja. Dan menyangkut ilmu apa saja. Tak heran kalau ia pandai. Dan kritis.

“Saya kira banyak sekali orang yang bisa pandai dari membaca buku. Tidak hanya Gus Dur. Yang lebih kritis juga tidak kurang-kurang. Tapi untuk apa pandai dan kritis itu? Kalau nggak kuat, bisa minterin orang. Jadi fitnah. Pinter nggak ada gunanya. Nyolong ora ketok nyolong, ya pinter,” jelas kang Sobary pada peluncuran Pojok Gus Dur di gedung PBNU lantai 8 pada Ahad, 07/08 petang.

Hadir pada kesempatan itu sahabat-sahabat Gus Dur yang lain; Adi Massardi, Musdah Mulia, Budi Tanuwibowo, Muslim Abdurahman, dan Danarto.

Minggu, 28 Agustus 2022

Seorang Teman yang Ingin Membunuh Sheriff


Sekitar 2005, saya memergoki seorang teman, Abi Setyo Nugroho, menyanyikan I Short the Sheriff. Tak hanya sekali. Saya pernah boncengan di motornya. Sambil pegang stang motor dalam kecepatan 60 km per jam ia berteriak 

I shot the sheriff, but I didn't shoot no deputy, oh no, oh

I shot the sheriff, but I didn't shoot no deputy, ooh, ooh, ooh

Dalam kondisi seperti itu, saya merasa rawan karena 2 hal: takut kecelakaan dan tak tahu makna lagu itu. 

Ia sepertinya hafal betul lagu itu secara keseluruhan. Kenapa saya sebut sepertinya? Karena saya tak punya kapasitas untuk memastikannya. Saya hanya tahu judulnya saja. Kalaupun dia seolah-olah nyanyi dengan lirik yang keliru, saya tak akan tahu. Kalau ia hafal sebagian pun, saya tak bisa menjadi hakim yang mengadilinya. 

Senin, 22 Agustus 2022

Bukan tentang Brigadir J. dan Bukan tentang Musik


Saya menyukai beberapa jenis musik, mulai dangdut, pop, rock, keroncong, hingga reggae. Tentang kesukaan yang disebut terakhir ini, saya terpengaruh teman saya, Pagar Dewo, ketika sama-sama ngekos di Instalasi, Ciputat pada sekitar 2012 sampai 2013. 

Saat itu, ia hampir tiap hari memutar lagu-lagu Bob Marley seperti Sun Is Shining, Exodus, Rastaman, I’m Still Waiting, Cry to Me, Jamaica Rum, dan lain-lain. Alat pemutar musiknya adalah sebuah komputer berwarna putih yang menjelma agak krem dengan hard disk, kalau tak salah ingat, hanya berkapasitas 16 gb. Namun, sound-nya lumayan bagus, tapi lupa merknya. 

Ia juga menyukai karya pemusik reggae Tanah Air, di antaranya Tony Q. Rastafara. Maka tak heran, ia sering memutar Tertanam, Om Funky, Ngayogjakarto, dan lain-lain. Saya kemudian suka salah satu lagunya, Paris van Java.